Tentang Perasaan

“Gimana ya aku harus jelasin…” Suara Bo dari seberang terdengar lirih.

“Ayolah…” renggek Panpan.

“…….”

“Kok diem??”

“Berat..berat banget…”

“Seberat apakah?? tentang apa??”

“One more…sangat berat..about our relationship..tepatnya tentang kelanjutannya….” lagi2 suara Bo tercekat erat di tenggorokannya, Bo menghela nafas panjang dan mencoba berusaha melanjutkan kata2nya yang sebenarnya tak pernah Bo bayangkan kata2 ini akan keluar disaat Bo menemukan sosok cewek yang benar2 cukup membuat Bo nyaman..yeah nyaman..sosok yang sangat berharga..sosok yang selalu nemanin hari2 Bo, yang tak pernah lelah memotivasi Bo tentang hidup yang indah.

“…..Panpan tahu kan kalo Bo sayang ma Panpan..sangat..begitu juga sebaliknya Bo yakin kalo Panpan sayang ma Bo, tapi..”

“Tapi apa??”

“Setelah pembicaraan kemarin tentang Mas Upe aku mikir banyak..apa cukup hidup cuman dengan rasa sayang?? ga’ kan?? setelah aku pikir kemungkinan besarnya mungkin kita harus..” Lagi2 suara nafas Bo yang panjang terdengar.

“…Putus…”

“..hehh…apa??…” Suara Panpan tak jauh beda dengan Bo

“Semudah itukah Bo??..”

“Lalu harus gimana lagi?? sampe kapan kita harus begini?? bahkan lepas dari permasalahan ma Mas Upe..masalah ini menyangkut pemikiran mereka dan aku cukup tahu tentang keberadaanku..siapa aku..”

“ga’ bisa..ga’ bisa!!…” Suara Panpan mulai meninggi

“Kenapa?? semua bisa..apa yang ga’ bisa??!! ini saatnya kamu mendapatkan kebahagiaan yang lebih..sangat lebih mungkin..dan saat ini juga saat dimana kamu bisa buat bahagia mereka.”

“…….”

“Pan??…Bo udah siap kok kalo Panpan mau ngesudahin hubungan ini.kapanpun..”

“…….”

“Apa Panpan ga’ tega..apa mesti aku yang ngucapin kata itu??..pa harus ketemu?? sekarangkah??”

“…….”

“Pan??…”

“Ga’ segampang itu Bo…masalahnya..”

“Masalahnya apa??”

“…masalahnya ini tentang..”

“Tentang apa??”

“..tentang perasaan..”

“……….” jauh dari tempat Panpan berada tampak pandangan Bo sedang menerawang..perasaan??..hah bedebah..seandainya Panpan juga tahu perasaan Bo saat ini. Apa harus panpan juga perlu mengerti perasaan apa lagi yang harus Bo jelasin..Bo rasa tidak perlu, biar cukup Bo aja yang merasakan kegetiran yang sangat. Emosi Bo naik..matanya pun terpejam..gigi Bo gemeretak menahan emosi..

“….Bo??”

“……….”

~ oleh Satya Yuda di/pada Agustus 5, 2008.

Tinggalkan Balasan